Saturday, August 25, 2012

Cerita mengharukan di Hari Natal


Cerita mengharukan di bawah ini mengingatkan kita untuk semakin dan mencintai lebih dalam kepada Tuhan.
Diambil dari cerita nyata………
Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah yang berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.
Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, sahabatnya. Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut. “Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke Sekolah?”
“Ya, Bapa Pendeta!” balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut. Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, “Jangan menyebrang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat.”
“Terima kasih, Bapa Pendeta.” “Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?” “Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku.”
Dan Pendeta tersebut meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tetapi pastur tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.
“Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanya kue ini. Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar. Lihat ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa……. paling tidak aku tetap dapatpergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi. Tolong Tuhan.
Oh, ya..Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu. Tuhan, Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan….??? Tolong jangan marahi ibuku, ya…..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku.
Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku. Hei.ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira??? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang.” Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta .
“Bapa Pendeta..Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!” Kegiatan tersebut berlangsung setiaphari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif. Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat.
Mereka juga mengutuki orang yang menyinggung mereka. Ketika mereka sedang berdoa, Andypun tiba di Gereja tersebut usai menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan..Aku..” “Kurang ajar kamu, bocah!!!tidakkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa???!!! Keluar, kamu!!!!!” Andy begitu terkejut,”Dimana Bapa Pendeta Agaton..??Seharusnya dia membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah untukNya..”
Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja. “Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!” Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja.
……Lalu dia menyeberang, tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang – disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar.dan Andypun tewas seketika……….
Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi. Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata dating dan memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.
Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,”Maaf tuan..apakah anda keluarga dari bocah yang malang ini? Apakah anda mengenalnya?” Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam berkata,”Dia adalah sahabatku.” Hanya itulah yang dikatakan. Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang ada disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..
Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan. Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua Andy. “Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?” “Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” Ucap ibu Andy terisak.
“Apa katanya?” Ayah Andy berkata,”Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy, sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia membisikkan sesuatu.
“Apa yang dikatakan?” “Dia berkata kepada putraku..” Ujar sang Ayah. “Terima kasih buat kadonya. Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.” Dan sang ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong Bapa Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.
Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik,”Dia tidak berbicara kepada siapa-siapa… kecuali dengan Tuhan.”
source : AkuPercaya.com

Tuesday, March 27, 2012

Persepuluhan


Istilah persepuluhan di dalam bahasa Iberani ialah “maaser” yang berasal dari kata Aram “ascher” = kekayaan. Hal ini menunjukkan bahwa kita telah menerima kekayaan dari “sumber” kekayaan itu sendiri, yaitu Allah. Allah telah memberikan kita 100 % sesgala sesuatu yang ada pada kita dan kita diminta mengembalikan kepadaNya hanya 10 %.cara pengembaliannya inilah yang kita sebut masalah theologia persepuluhan.

Kalau kita memeriksa Alkitab dan Sejarah Gereja mengenai persepuluhan kita melihat beberapa cara yang berbeda-beda tapi tokh tidak bertentangan :


1. Abraham memberikan sepersepuluh dari hartanya kepada Melkisedek, tanpa ada peraturan tertentu untuk itu ( 1 Musa 14 : 20). Pemberian Abraham menyatakan pengakuan terhadap Melkisedek dan mengaku dirinya selaku bawahannya. Hal ini diberitahukan kembali di dalam Ibrani 7. Melkisedek adalah pracontoh Kristus ! Yang dapat diartikan bahwa keturunan Abraham - di dalam iman - sudah sepantasnya menuruti contoh yang dilakukan oleh Abraham memberikan persepuluhan kepada Kristus, sebagai suatu kenyataan pengakuan kita terhadap kuasa Kristus. Yakub juga menjanjikan untuk mermberikan sepersepuluh kepada Tuhan dari apa yang dia peroleh dari Tuhan sendiri. Inilah janji Yakub sewaktu dia berada di Bethel. Pada waktu itu belum ada peraturan mengenai persepuluhan.


2. Tetapi kemudian Tuhan telah mengaturkan agar setiap persepuluhan diserahkan kepada Tuhan. Inilah perintah yang disampaikan oleh Musa kepada orang Israel.


Persepuluhan itu adalah sebagain dari persembahan orang Israel, umat Allah kepada Tuhan. Persepuluhan terdiri dari hasil bumi seperti gandum, anggur dan buah-buahan. Hasil hewan : lembu, sapi, kambing, domba. Mengenai hewan diatur seperti berikut : Setiap lembu atau domba yang lewat dari bawah tongkat gembala dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi Tuhan. Tidak boleh ditukar-tukar. Sejak peraturan Sinai maka persepuluhan telah menjadi salah satu dari Hukuman Allah (3 Musa 27:31-34).


3. Orang Lewi karena jabatannya adalah penerima persepuluhan dari umat Allah (4 Musa 18,21). Mereka bukan menerima dari orang-orang Israel secara langsung. Tetapi mereka menerimanya dari tangan Tuhan, dimana Tuhan sendiri berkata : “…..sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan” (ayat 21 dan bd. Ayat 24, Nehemia 10:37 dst).


4. Mengenai tempatnya pun ada ditentukan dan jika tempat itu terlalu jauh sehingga sulit dalam pengadaan pengangkutan persepuluhan dapat diuangkan (5 Musa 14:24-25).


5. Sekali tiga tahun persembahan persepuluhan itu diberikan langsung kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda (5 Musa 14:28-29).


6. Pernah terjadi bahwa orang Yehuda tidak menghiraukan kewajibannya dalam memberikan persembahan persepuluhan, sehingga orang Lewi terpaksa meninggalkan tugasnya dan pergi ke ladang. Untunglah setelah ada nasihat dari Nehemia sehingga persembahan persepuluhan terlaksana kembali (Neh.13:10-12).


7. Di dalam Perjanjian Lama juga diberitakan bahwa persepuluhan diberikan kepada pihak penguasa atau Raja demi kepentingan pemerintahan (1 Sam.8:15-17).


8. Di dalam Perjanjian Baru masih ada terdapat bukti-bukti bahwa praktek pemberian persepuluhan itu masih berlangsung.

Menurut Luk.18:12 persepuluhan itu diambil dari segala penghasilan berarti bukan hanya dari hasil ternak dan pertanian. Yesus menghardik ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, karena mereka munafik di dalam pemberian persepuluhan itu. Persepuluhan dari selasih, adas dan jintan tetapi tidak melakukan keadilan dan belas kasihan serta kesetiaan (Mat. 23:23).

Inilah sebagai kunci untuk mengertikan “persepuluhan” itu. Pemberian persepuluhan tidak terpisahkan dari pelaksanaan hukum tentang keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Tuhan Yesus tidak pernah melarang hukum tentang persepuluhan itu tetapi Dia melarang praktek yang munafik. Apakah ahli Taurat dan orang-orang Farisi hanya memberikan persepuluhan dari hasil tanah yang sangat murah dan tidak memberikan persepuluhan dari hewan yang lebih mahal itu ?


9. Di dalam kesusasteraan Judaisme terutama di dalam Buku Jubileum 13:25 ff secara tegas ditandaskan tentang pelaksanaan pemberian persepuluhan. Dalam ayat 26 dapat kita baca :


“Dan hukum ini tidak mempunyai limit waktu; malah selalu mengatur generasi-generasi agar mereka memberikan kepada Tuhan persepuluhan dari segala-galanya, dari benih, dan anggur, dari minyak, dari kambing dan domba”.


Dari sini dapat kita simpulkan bahwa “Persepuluhan itu berlaku sebagai aturan yang tetap.


10. Di dalam sejarah gereja tidak berapa banyak terdengar tentang hal persepuluhan.

Tertullianus pada akhir abad kelima menjelaskan bahwa persepuluhan itu adalah dilaksanakan secara sukarela tetapi kemujdian menjadi kewajiban bagi setiap orang Kristen.
Synode Von Macon, Prancis yang dilaksanakan pada tahun 585 memutuskan tentang persepuluhan sebagai berikut :
“Hukum ilahi memerintahkan semua bangsa memberikan persepuluhan dari buah-buah (penghasilan) mereka ketempat suci”. Gereja abad ke-enam mengingatkan kembali umatnya untuk melaksanakan persembahan persepuluhan.
Di Perancis telah diakui hak Gereja secara hukum atas persepuluhan. Pada zaman Reformasi pun persepuluhan tidak digoyang oleh pembaharuan. Martin Luther sendiri mengakui bahwa hukum tentang persepuluhan itu adalah suatu hukum yang benar-benar indah ditinjau dari segi pergerakannya, dimana dia berkata : “Karena kalau banyak tumbuh di ladang, saya berikan banyak, kalau sedikit, saya berikan sedikit”.
11. Di dalam praktek sehari-hari apa yang disebut persepuluhan bukan dihitung secata Matematika. Dan bukan itu yang terpenting dalam theologia persepuluhan. Tetapi kita harus jujur. Kalau sekiranya penghasilan kita ada sekitar 100 karung padi dan kita memberikan persepuluhan hanya 1 kaleng, tentu kitalah yang membohongi diri sendiri.
12. Bagaimana kesimpulan kita dewasa ini tentang persepuluhan? Walaupun tidak ditentukan sebagai suatu peraturan, tetapi tidak ada satu ayatpun yang telah pernah membatalkan persembahan persepuluhan. Artinya kita seharusnya menjalankannya, tetapi bukan sebagai tuntutan Taurat. Rasul Paulus berkata di dalam 1 Kor. 16 : 2 : “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kami masing-masing sesuai dengan apa yang kamu peroleh menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu diadakan, kalau aku datang”.
Di sini tidak disebut persepuluhan, tetapi ditentukan suatu hari di dalam satu minggu.
Pelaksanaan pemberian harus sepadan dengan kerelaan dan berdasarkan yang ada pada seseorang (2 Kor. 8 : 11). Bahkan Jemaat itu bukan hanya memberikan dari harta bendanya tetapi memberikan diri mereka (2 Kor. 8 :5).
Tuhan Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukcita menurut kerelaan hatinya.
Semua pemberian termasuk pemberian persepuluhan adalah sekaligus seperti menabut di ladang Tuhan, di mana Tuhan sendiri yang menyediakan benih bagi penabut dan melipat gandakannya. Dengan ketentuan : “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Kor. 9:6)
Di dalam pelaksanaan pemberian persepuluhan itu Tuhan menilai motif dari setiap pemberian ! Apakah kita jujur dan setia atau apakah kita munafik.
Mungkin kita telah berjanji untuk memberikan persepuluhan, tetapi jika sekiranya penghasilan dari sumber yang sama itu melimpah ruah, apakah kita masih bersedia memberikannya dengan penuh sukacita? Atau apakah jumlah itu sudah terlalu banyak sehingga perlu dikurangi?
Persepuluhan dapat membantu kita untuk menyerahkan persembahan kita yang sekaligus berfungsi sebagai benih ditabur. Setiap “penabur benih” di dalam kerajaan Allah pasti membawa berkah panen.
Janganlah kita menipu Allah di dalam persembahan persepuluhan dan persembahan khusus, untuk itu ada baiknya jika kita merenungkan Maleaki 3 : 10 : “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, Firman Tuhan semesta Alam, apakah Aku tidak membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan”. Tuhan sendiri mengatakan dalam hal ini “ujilah Aku!” Silahkan, uji Tuhan! Tidak salah kalau kita mengujiNya! Pasti Tuhan masih membuat tanda mujizat dalam hal ini.
Apakah jumlah 10% untuk persepuluhan terlalu besar bagi kita untuk setiap penghasilan? Di dalam dan bersama iman tentu tidak, tetapi secara terpaksa sudah barang tentu terlalu besar. Baiklah kita melaksanakannya bukan berdasarkan peraturan tok atau paksaan tetapi melulu berdasarkan Firman Tuhan dan sebagai persembahan syukur kepada Tuhan dengan sukacita.

Monday, March 19, 2012

Persahabatan yang Menyelamatkan


Tuhan Yesus menginginkan hubungan yang lebih dalam dengan orang orang yang mau mengenal dan mengikuti perkataanNya. Untuk menegaskan hubungan yang lebih dekat dan lebih berkualitas itu Dia menyebut Sahabat. Sahabat berbeda dengan hamba.
Hamba adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada tuannya. Hamba merasa seratus persen dirinya sudah tertawan dan terikat hanya untuk melayani tuannya. Hamba bahkan sering disebut sebagai keset kaki. Pada kebiasaan timur tengah, seorang hamba akan duduk duduk di pintu rumah menunggu tuannya yang berpergian. Begitu tuannya tiba di depan pintu, maka sang hamba akan membuka kasut (sepatu), membasuh untuk membersihkan kakinya, melapnya sampai kering, sehingga sang tuan akan masuk ke dalam rumah dengan nyaman karena kakinya sudah bersih. Hamba tetap duduk diluar.
Sahabat tentu saja berbeda dengan hamba, sebab sahabat akan ikut masuk ke rumah, makan dan minum serta berbagi cerita. Tuhan Yesus juga berbagi cerita dengan para sahabatNya, seperti Dia katakan pada Yohanes 15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat,
Apa itu sahabat? Mengapa Yesus menekankan pentingnya arti sahabat atau persahabatan? Pada ayat sebelumnya dari Yohanes : 15, kata sahabat dipakai untuk menjelaskan arti kasih. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15 : 13). Kristus mengingatkan makna kata sahabat dalam hal ini. Sahabat adalah seseorang yang kepadanya kita bersedia mengorbankan nyawa sekalipun. Benarkah?

Sahabat Pada Perjanjian Lama.
Ternyata ketika Tuhan Yesus mengutip dan memakai kata sahabat, maka ada kisah panjang dan sangat mendalam tentang persahabatan di Jaman Perjanjian Lama. Kiranya dari sinilah Tuhan Yesus menempatkan diriNya sebagai sahabat. Di perjanjian lama memang dijelaskan bahwa ketika dua orang sudah berjanji menjadi sahabat dan sering dilakukan dengan sumpah, maka janji itu akan mengikat selama lamanya.
1. Perjanjian persahabatan antara Abraham dengan Melkisedek
Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku di sini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku, atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikianlah harus engkau berlaku kepadaku dan k karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
2. Sumpah Persahabatan Yosua dengan penduduk Gibeon
Maka Yosua mengadakan persahabatan dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka, bahwa ia akan membiarkan mereka hidup; dan para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka.
Begitu kuatnya ikatakan persahabatan itu, Sehingga apapun dilakukan untuk melindungi sahabatnya. Bahkan tidak jarang, seorang sahabat bersedia berperang sampai mati untuk melindungi sahabatnya. Jadi ketika Yesus berkata bahwa tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih sahabat yang rela mengorbankan nyawaNya, Dia mereferensi kepada perjalanan Bangsa Yahudi. Sahabat mempunyai makna transendental.
Ketika Yosua berperang kepada Lima Raja ntuk melindungi penduduk yang sudah dijanjikan sebagai sahabat yaitu Gibeon, maka Tuhan menolong Yosua sehingga bisa memenangkan pertempuran. Pertolongan Tuhan kepada Yosua, sampai kepada sahabatnya Bangsa Gibeon. Meskipun sebenarnya Bangsa Gibeon menipu Yosua untuk mendapatkan sumpah persahabatannya. Jadi manusia bisa diselamatkan oleh persahabatannya. Persahabatan menimbulkan keselamatan.
Bisakah Persahabatan Bubar ?
Tentu bisa saja terjadi. Sebenarnya ikatakan persahabatan itu kan hanya janji atau sumpah. Sehingga banyak yang sudah bersahabat akhirnya bubar juga. Banyak yang sudah menikahpun akhirnya bercerai juga.
Ayub sendiri mengatakan demikian :
Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis,
Juga Pemazmur :
Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.
Dalam dunia modern ini pun kita selalu lihat dan dengar bubarnya persahabatan. Apa lagi dalam politik atau kehidupan para selebriti. Bahkan gereja pun mengalami perpecahan persahabatan. 


Mempertahankan Persahabatan.
Tuhan Yesus sendiripun memberikan syarat terhadap persahabatanNy. Dituliskan dalam  Yohanes 15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Tuhan Yesus meminta kepada sahabatnya sebuah komitmen untuk melakukan apa yang Dia perintahkan. Persahabatan memang membutuhkan komitmen. Komitmen untuk mempertahankan persahabatan itu. Komitmen untuk tetap berbagi dan saling  menerima dari seluruh potensi yang dimiliki seorang manusia.
Persahabatan juga memerlukan kepercayaan, sebab persahabatan yang tulus dan mendalam lahir dari keinginan menerima apapun adanya keberadaan sahabatnya. Persahabatan diperlukan tidak hanya sebatas pencapaian cita cita, apalagi cita cita politik.
Mempertahankan persahabatan dilakukan dengan berkomunikasi terus terang atau terbuka namun asertif. Berani mengatakan apa adanya, baik yang buruk sekalipun sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan persahabatan itu sendiri.
Persahabatan yang cerdas dan berkualitas adalah persahaban yang dilakukan melalui kombinasi,  Inteligent Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient.
Bahkan sebenarnya persahabatan lebih dari itu, sebab persahabatan sejatinya dijalin untuk merespon kehidupan menuju kehidupan berikutnya. Dalam hal ini, saya melihat bahwa untuk menciptakan Indonesia baru para pemimpin Bangsa seyogianya bersahabat satu dengan yang lain. Sebab dalam Negara yang sangat berbeda dan plural kita akan diselamatkan karena persahabatan kita.

Wednesday, March 14, 2012

Garam dan Terang Dunia

Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
6 Februari 2011

Yes. 58:1-9a, (9b-12); Mzm. 112:1-9 (10); I Kor. 2:1-12, (13-16); Mat. 5:13-20

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi
gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas
 gunung tidak mungkin tersembunyi” (Mat. 5:13-14).
 Garam dan terang merupakan analogi yang konkret, sederhana namun sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Nilai kegunaan garam dan terang tidak perlu diiklankan, namun semua orang mengetahui manfaatnya. Garam dapat dipakai untuk mengawetkan ikan, memberi cita-rasa dalam makanan, menyuburkan tanaman, dan sebagainya. Kehidupan kita sehari-hari juga sangat membutuhkan terang. Tanpa terang, kita tidak dapat melihat dan melakukan aktivitas. Makna garam dan terang merupakan analogi yang dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menjelaskan suatu nilai dan manfaat hidup yang begitu penting. Kehidupan yang tidak dapat memberi nilai dan manfaat merupakan kehidupan yang sia-sia dan tak layak dijalani. Sebab apa artinya bila hidup kita ternyata membawa kerusakan, kesedihan dan penderitaan bagi sesama? Namun yang mengejutkan, ternyata Tuhan Yesus tidak berkata: “Jadilah garam dan terang dunia”, tetapi: “Kamu adalah garam dan terang dunia”. Kedua kalimat tersebut tampaknya mirip, tetapi memiliki pengertian yang sangat berbeda. Pengertian “Jadilah garam dan terang dunia” menunjuk panggilan agar kita berjuang untuk “menjadi” garam dan terang bagi dunia ini. Tetapi pengertian “Kamu adalah garam dan terang dunia” lebih menunjuk kepada suatu identitas diri dan karakter. Setiap umat percaya memiliki identitas diri dan karakter sebagai garam dan terang bagi dunia ini. Artinya setiap identitas dan karakter umat yang rielnya tidak memiliki “karakter dan fungsi” sebagai garam dan terang, layaklah ia dibuang (Mat. 5:13). Sungguh suatu pengajaran yang mengejutkan dan tanpa kompromi!

                  Pengajaran Tuhan Yesus tersebut menempatkan realisme diri manusia secara positif. Namun juga mengungkapkan suatu idealisme. Realisme kekinian umat yang dinyatakan dalam identitas dan karakternya haruslah ditandai oleh fungsinya yang konstruktif, dan pada pihak lain memiliki suatu idealisme yang harus diperjuangkan tanpa kompromi. Karena itu realisme kekinian setiap umat dengan identitas diri dan karakternya tidak boleh bersifat pasif, tetapi dinamis dan progresif. Identitas diri dan karakter umat sebagai garam dan terang harus melampaui standar penilaian dunia. Tepatnya hidup kerohanian umat percaya tidak boleh di bawah  standar nilai yang berlaku umum dalam masyarakat. Karena itu Tuhan Yesus berkata: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 5:20). Kerohanian ahli Taurat dan orang Farisi jelas dianggap lebih tinggi dalam masyarakat Israel waktu itu. Tetapi ternyata standar nilai dan karakter dari Kristus menuntut suatu spiritualitas yang lebih tinggi dari pada pola spiritualitas para ahli Taurat dan orang Farisi. Karena Tuhan Yesus menghendaki suatu “kesempurnaan” hidup rohani: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Mat. 5:48). Dasar idealisme pengajaran Tuhan Yesus adalah: “sama seperti Allah adalah sempurna”. Idealisme tersebut tentunya tidak bermaksud menyatakan bahwa manusia mampu sempurna seperti Allah yang adalah sempurna. Sebab manusia telah jatuh ke dalam kuasa dosa. Namun sebagai manusia berdosa, kita juga harus memiliki suatu idealisme rohani yang tinggi.

                Setiap umat berdosa, tetapi situasi keberdosaan kita tersebut tidak boleh mendorong kita hanya melihat noda-noda kotoran dosa-dosa. Dengan iman, kita juga harus mampu memandang ke atas untuk menyambut anugerah keselamatan Allah. Dengan realisme diri kita yang berdosa itu, kita disadarkan bahwa tidak ada seorangpun yang mampu mengerjakan keselamatan bagi dirinya sendiri. Sebab realisme diri kita yang lemah dan berdosa akan diubah Allah menjadi suatu realisme diri yang “sempurna” ketika kita bersedia membuka diri terhadap realisme penebusan Kristus. Hakikat Allah adalah sempurna.  Kristus yang adalah hakikat Firman Allah juga sempurna. Namun dalam inkarnasiNya, Kristus menjadi bagian yang utuh dan eksistensial dengan kehidupan umat manusia. Karena itu melalui hidup dan karya Kristus, setiap umat memiliki harapan dimampukan untuk menyerupai Kristus yang adalah Allah. Di Mat. 5:17, Tuhan Yesus berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Tidak ada seorangpun yang mampu memenuhi tuntutan hukum Taurat dengan kekuatan dan kebajikannya sendiri. Karena itu Kristus datang untuk menggenapi seluruh tuntutan hukum Taurat tersebut. Dengan demikian menjadi jelas, melalui anugerah keselamatan Kristus, kita dimampukan untuk menggenapi tuntutan hukum Taurat. Jadi seharusnya ibadah, puasa atau kewajiban agama dilakukan karena kuasa kasih Kristus. Makna puasa dihayati sebagai suatu media mengkomunikasikan kasih Allah kepada sesama.

                Di kitab nabi Yesaya, Allah menegur umat Israel yang setiap hari mencari Allah, mengenal segala firmanNya dan rutin berpuasa. Namun motivasi dan praktek keagamaan tersebut diikuti pula dengan perbuatan-perbuatan mereka yang keji kepada sesama. Mereka berpuasa, tetapi juga menganiaya orang-orang yang lemah. Itu sebabnya doa permohonan mereka tidak didengarkan Allah.  Walaupun secara ritual mereka merendahkan diri di hadapan Allah, namun Allah tidak mengindahkan mereka (Yes. 58:3-4).  Sebab yang utama bagi Allah bukanlah tindakan ibadah, tetapi bagaimana suatu ibadah memampukan umat untuk membawa keselamatan dan pembebasan  Allah terhadap sesama yang terbelenggu. Tindakan kasih kepada sesama seharusnya dinyatakan sebagai wujud dari puasa dan ibadah. Umat Israel pada waktu itu gagal memerankan diri sebagai garam dan terang dunia sebab hati mereka belum dibaharui oleh kasih Allah. Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan umat percaya. Yang dikehendaki oleh Kristus, bukanlah kemegahan suatu ritualitas, tetapi apakah mereka mempraktekkan kasih Allah secara megah, tak terbatas dan tanpa syarat kepada sesama di sekitarnya.

Doa:
Tuhan Yesus, Engkaulah penggenap seluruh hukum Taurat. Mampukanlah kami dengan kuasa kasihMu untuk menjadi garam dan terang dunia. Dengan demikian, kami dapat menjadi alatMu yang membebaskan dan menyelamatkan setiap orang di sekitar kami. Amin.

Friday, March 9, 2012

Warisan Tuhan

Sumber : http://www.bethanychurchsydney.org.au

Ringkasan Kotbah : Pdt. Sugandi
Tanggal : 18 May 2008


Warisan mempunyai arti yang berbeda di perjanjian lama dan perjanjian baru. Di perjanjian lama warisan sering kali di artikan tanah, harta, kuasa, dan sejenisnya. Tetapi di perjanjian baru warisan indentik dengan suatu hubungan ayah dan anak.
Di perumpamaan kebun anggur (Markus 12: 1-11), dapat kita simpulkan bahwa Tuhan Yesus adalah ahli waris tunggal, sedangkan dari Galatia 4: 6-7 Gereja (kita semua orang percaya) adalah ahli waris bersama. Sekarang pertanyaanya adalah berupa apakah warisan Tuhan itu?
1.  Kerajaan Allah (Matius 21:43, Matius 25: 34, 1Korintus 6: 9, 1 Korintus 15: 50).
Kerajaan disini bukan berarti suatu tempat, negara, atau semacam itu. Tetapi kerajaan Allah disini adalah suatu nuansa dimana Yesus adalah Raja dan kita sebagai rakyatNya. Dalam hidup kita siapakah yang menjadi raja atas hidup kita? Masih diri kita sendiri atau sudahkah kita menjadikan Yesus sebagai Raja atas hidup kita?
2.  Hidup yang kekal (Matius 19:29, Lukas 10: 25, 1 Timotius 6: 18-19).
Hidup yang kekal tidak hanya berbicara tentang lamanya jangka waktu, tetapi juga berbicara tentang kualitas hidup yang sebenarnya. Hidup yang kekal adalah kualitas kehidupan dimana kehendak Allah terjadi dalam hidup kita, yaitu hidup di bawah pimpinan Tuhan (Kerajaan Allah). Kapankah kita memperoleh warisan hidup yang kekal ini? Sekarang juga pada saat kita percaya dan taat pada Tuhan (Yohanes 3: 16, 36).
Ada banyak lagi warisan-warisan Tuhan yang lain, tetapi point-point diatas adalah dua dari yang terutama. Kita sudah mendapatkan sebagian dari warisan-warisan Tuhan, belum semuanya. Tetapi Tuhan sudah memberikan jaminanNya kepada kita, yaitu Roh Kudus (Efesus 1: 14, 2 Korintus 1: 21-22, 2 Korintus 5: 5).
Tuhan Yesus memberkati.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More